RSS

All About memories On Liverpool

01 Feb

10 Momen Manis Liverpool Dekade Ini

Bola.netOleh: Ronny Wicaksono

Bersama Manchester United, The Reds menjadi klub paling sukses di ranah Inggris dengan sejarah panjang di belakang mereka, namun semuanya seakan menguap dalam dua musim terakhir.

Musim kompetisi lalu perjalanan Liverpool berakhir dengan buruk – mereka finis di peringkat tujuh Liga Premier, kehilangan tiket Liga Champions dan tak satu pun meraih gelar. Buntutnya pelatih Rafael Benitez hengkang ke Inter Milan.

Musim ini, mereka berganti nakhoda. Namun di tangan Roy Hodgson, figur di balik sukses Fulham musim lalu, start mereka pun tak menggembirakan dan tampaknya mereka kembali akan puasa gelar tahun ini.

Hanya tinggal beberapa bulan lagi, genap satu dekade berlalu di millennium baru ini dan meski belum pernah lagi mengecap gelar juara Liga Premier sejak musim 1989-1990, dalam satu dekade ini The Reds masih punya momen manis untuk dikenang, terutama di kancah Eropa.

Berikut beberapa momen dan aksi yang tak terlupakan dari laga yang dilakoni The Reds satu dekade ini:

10. Chelsea 0-1 Liverpool
Liga Premier, 26 Oktober 2008


Ini mungkin adalah laga di mana posisi Liverpool sebagai penantang gelar juara mulai dipandang serius.

Keberhasilan Chelsea mengukir rekor 86 laga tanpa terkalahkan ditambah dengan sejarah bahwa The Blues selalu meraih hasil bagus kontra Liverpool di pentas liga, membuat mereka ditempatkan sebagai favorit jelang laga di Stamford Bridge ini.

Namun tembakan kaki kiri Xabi Alonso dari depan kotak penalti yang membentur pemain belakang Chelsea, membelokkan bola ke gawang dan mengakhiri rekor tak terkalahkan tuan rumah.

9. Liverpool 8-0 Besiktas
Liga Champions, 06 November 2007

Besiktas tampil mengejutkan pada pertemuan pertama di Turki dengan membekuk Liverpool 2-1, namun mereka tak mampu berbuat banyak saat harus bertandang ke Anfield.

Hat-trick Yossi Benayoun plus masing-masing dua gol dari Peter Crouch dan Ryan Babel serta satu gol Steven Gerrard membawa The Reds meraih kemenangan terbesar dalam sejarah Liga Champions.

Meski lolos ke babak knockout berkat kemenangan ini, laju Liverpool harus terhenti di semifinal saat mereka dilibas Chelsea.

8. Liverpool 4-0 Real Madrid
Liga Champions, 10 Maret 2009

Liverpool menyambut laga ini dengan keunggulan tipis 1-0 di Bernabeu, dan para fans hanya berharap hasil imbang 0-0 demi meloloskan The Reds ke babak berikutnya. Kekuatan Madrid memang sudah tak seperti beberapa musim sebelumnya, tetapi mereka tetaplah berbahaya.

Satu orang pemain menjadi sorotan dalam laga ini: Fernando Torres. Memendam rivalitas semasa di Atletico Madrid, Torres bahkan harus menerima injeksi penghilang rasa sakit demi bisa tetap bermain dan menorehkan luka sedalam mungkin pada kubu Los Blancos.

Dan misi serta pengorbanannya berhasil dengan sukses. Torres membuka pesta gol The Reds, sebelum Steven Gerrard mencetak dua gol dan ditutup dengan tendangan Andrea Dossena.

7. Everton 2-3 Liverpool
Liga Premier, 16 April 2001

Tak ada hal yang lebih indah ketimbang mengalahkan rival satu kota dalam laga derby, terutama jika itu dilakukan dengan apik di kandang lawan – sama seperti yang diraih Liverpool dalam laga ini.

Lima gol, satu penalti yang gagal, klaim penalti yang ditolak, 12 kartu kuning dan satu kartu merah mewarnai partai panas Derby Merseyside ini.

Emile Heskey membuka keunggulan Liverpool sebelum Duncan Ferguson menyamakan kedudukan.0

Insiden berikutnya berturut-turut: Markus Babbel membawa Liverpool kembali unggul, Robbie Fowler gagal mengeksekusi penalti, Igor Biscan diusir keluar lapangan, dan David Unsworth membuat skor kembali imbang 2-2 lewat tendangan penaltinya.

Gary McAllister kemudian menentukan kemenangan The Reds dengan tendangan bebas spektakuler dari luar kotak penalti di menit 93, dan memastikan tiga poin ke seberang Merseyside.

6. Chelsea 4-4 Liverpool
Liga Champions, 14 April 2009

Satu lagi pertandingan yang menghibur di kancah Eropa, semua berkat permainan yang ketat dan penuh taktik.

Liverpool membutuhkan kemenangan dengan margin setidaknya dua gol menyusul kemenangan Chelsea 3-1 pada leg pertama di Anfield, jadi mereka pun tak memiliki niat untuk bertahan.

Banyak yang meragukan kalau Liverpool bisa menembus pertahanan Chelsea, namun mereka malah unggul 2-0 sampai pertengahan babak pertama lewat Fabio Aurelio dan penalti Xabi Alonso.

Chelsea merespon gol tersebut dengan mencetak dua gol lewat Didier Drogba dan Alex demi membuyarkan semua kerja keras Liverpool di babak pertama, namun tim tamu tetap pantang menyerah.

Lampard seolah membunuh asa Liverpool dengan membawa Chelsea unggul 3-2, tetapi dalam dua menit gol dari Lucas Leiva dan Dirk Kuyt membawa mereka balik unggul 4-3 (agregat 6-5) – dan satu gol lagi bakal menuntaskan mimpi mereka.

Sayangnya, mereka gagal melakukannya dan satu gol tersebut justru dipetik Chelsea lewat aksi Frank Lampard yang meloloskan The Blues ke semifinal dengan skor agregat 7-5 dan mengakhiri laga yang menegangkan tersebut dengan skor 4-4.

5. Liverpool 3-1 Olympiakos
Liga Champions, 08 Desember 2004

Ini adalah salah satu laga yang melapangkan jalan Liverpool menuju kejayaan mereka kala itu, dan sekali lagi semua berkat penampilan inspirasional dari sang kapten, Steven Gerrard.

The Reds butuh menang dengan margin dua gol demi memastikan mereka lolos dari fase grup, tapi semuanya seakan sirna ketika Rivaldo membawa tim tamu memimpin.

Dengan barisan pemain ‘kelas dua’ macam Chris Kirkland, Djimi Traore, Florent Sinama-Pongolle, Antonio Nunez, Harry Kewell, Milan Baros, dan Neil Mellor, mereka butuh tiga gol di babak kedua untuk lolos.

Hal itu sepertinya mustahil, namun Sinama-Pongolle membuat start yang bagus untuk Liverpool dengan menyamakan kedudukan di awal babak kedua, namun penantian panjang untuk gol berikutnya seolah tak pernah berakhir.

Akhirnya saat laga tersisa kurang dari satu menit, Neil Mellor membawa Liverpol unggul 2-1 dan dengan satu harapan yang mulai menipis, keajaiban terjadi. Mellor melepas umpan kepada Gerrard yang dengan tendangan volinya membawa Liverpool kepada kemenangan krusial dan bersejarah.

4. Liverpool 4-4 Arsenal
Liga Premier, 21 April 2009

Laga ini menandai penampilan gemilang meriam baru The Gunners, Andrei Arshavin.

Bintang Rusia tersebut membawa timnya unggul di pertengahan babak pertama memanfaatkan kesalahan Javier Mascherano, namun sundulan Fernando Torres menyamakan kedudukan di awal babak kedua.

Liverpool berbalik unggul lewat Yossi Benayoun sebelum Arshavin mencetak gol keduanya, kali ini memanfaatkan kesalahan Alvaro Arbeloa. Satu kesalahan lagi dari Fabio Aurelio, membuat Arshavin mengemas hat-trick tiga menit berselang.

Dua menit kemudian tendangan Torres membuat kedudukan kembali imbang 3-3. Upaya Liverpool untuk terus menekan membuat pertahanan mereka terbuka, dan Arshavin mencetak gol keempatnya lewat serangan balik di injury time babak kedua.

Saat Arsenal berpikir kalau mereka telah memenangkan laga, dan Liverpool mulai kehilangan harapan untuk meraih poin, satu drama lagi terjadi saat Benayoun berhasil menyamakan kedudukan tak lama berselang.

3. Manchester United 1-4 Liverpool
Liga Premier, 14 Maret 2009

Rivalitas antara Manchester United dan Liverpool selalu membuat pertemua keduanya menarik, tak terkecuali laga ini.

The Reds sepertinya akan dipermalukan di Old Trafford saat eksekusi penalti Cristiano Ronaldo membawa tuan rumah unggul di menit 23, namun ternyata itu menjadi gol tunggal United dalam laga ini.

Dalam tempo lima menit, Liverpool berhasil menyamakan kedudukan lewat Fernando Torres yang sebelumnya memanfaatkan kesalahan Nemanja Vidic. Sebelum turun minum, tim tamu berbalik unggul lewat penalti Steven Gerrard setelah ia dilanggar Patrice Evra di kotak 16.

Penampilan buruk Vidic berlanjut di babak kedua ketika ia menjatuhkan Gerrard saat hendak menuntaskan peluang, membuatnya diganjar kartu merah dan dari tendangan bebas yang tercipta, Fabio Aurelio memperbesar keunggulan Liverpool menjadi 3-1.

Andrea Dossena kemudian menutup kemenangan manis Liverpool dengan tendangan lob-nya. Dan meski United akhirnya menjadi juara musim tersebut, kekalahan memalukan dari sang rival abadi itu tak akan pernah bisa mereka lupakan.

2. Liverpool 3-3 AC Milan
Liga Champions, 25 Mei 2005

Mungkin tak ada lagi yang bisa dikatakan untuk laga ini selain ‘luar biasa’.

Liverpool menyongsong laga ini dengan status underdog karena skuad mereka yang kalah bersinar ketimbang Milan. Dan mereka seolah siap untuk menelan kekecewaan saat babak pertama dibuka.

Paolo Maldini mencetak gol cepat di awal pertandingan sebelum dua gol Hernan Crespo membawa Milan menjauh saat memasuki jeda.

Masuknya Dietmar Hamann di babak kedua memberi banyak perbedaan, membuat Steven Gerrard lebih leluasa bergerak dan kapten Liverpool itu membangkitkan asa timnya dengan gol di menit 53, sebelum Vladimir Smicer memperkecil ketinggalan menjadi 3-2 semenit kemudian.

Pelanggaran Gennaro Gattuso terhadap Gerrard di kotak terlarang memberi hadiah penalti untuk Liverpool yang dituntaskan oleh Xabi Alonso – dalam waktu enam menit Liverpool membalikkan defisit tiga gol melawan salah satu tim dengan pertahanan terbaik, sungguh kebangkitan yang luar biasa.

Tak cukup di situ, pemain yang kurang diperhatikan di Anfield kemudian menjadi pahlawan. Djimi Traore menghalau sundulan Andriy Shevchenko di garis gawang, sebelum kiper Jerzy Dudek bermain gemilang untuk menggagalkan dua peluang Shevchenko dari jarak dekat.

Dan sekali lagi Shevchenko gagal menaklukkan Dudek, kali ini dalam drama adu penalti yang menentukan, demi membawa Liverpool merengkuh gelar Liga Champions kelima mereka.

 

1. Liverpool 5-4 Alaves
Piala UEFA, 16 Mei 2001

Laga ini menempati posisi teratas karena memiliki segala yang diharapkan dari sebuah pertandingan sepak bola – menarik, menghibur sekaligus menegangkan dan mungkin adalah salah satu laga terbaik sepanjang masa.

Lebih menarik lagi adalah fakta bahwa laga ini bak David versus Goliath – The Reds adalah klub besar yang tengah mengejar gelar ketiga mereka, sementara Deportivo Alaves adalah klub Spanyol yang relatif tak dikenal.

Markus Babbel membawa Liverpool unggul cepat sebelum digandakan Steven Gerrard hanya dalam tempo 20 menit, namun pergantian efektif yang dilakukan Alaves dengan memasukkan Ivan Alonso di menit 23 membuahkan hasil kala ia mencetak gol lima menit kemudian.

Pelanggaran kiper Alaves terhadap Michael Owen berbuntut penalti yang dituntaskan sempurna oleh Gary McAllister demi membawa Liverpool unggul mutlak 3-1 memasuki jeda turun minum.

Pertandingan babak kedua dimulai dengan cepat, dan Javi Moreno segera membobol gawang Liverpool di menit 48 diikuti gol keduanya di menit 51 untuk membawa Alaves menyamakan kedudukan 3-3.

Keyakinan Alaves yang membumbung tinggi seolah dibuyarkan Robbie Fowler dengan golnya di menit 73 tetapi mantan pemain Manchester United, Jordi Cruyff membuyarkan kemenangan Liverpool di menit akhir dan memaksa laga dilanjutkan dengan perpanjangan waktu.

Di babak tambahan ini, kembali tercipta drama, dengan dua gol yang dibatalkan untuk kedua kubu serta satu kartu merah untuk pemain Alaves, Magno Mocelin di 15 menit pertama.

Kapten Alaves, Antonio Karmona, pun menerima kartu kuning kedua dan dari tendangan bebas tersebut Delfi Geli melesakkan bola ke gawang sendiri – pertandingan pun disudahi dengan golden goal bunuh diri.

Sembilan gol, dua kartu merah, satu penalti, dua kali bangkit dari ketinggalan, satu gol bunuh diri dan gol yang menyamakan kedudukan di menit akhir dalam partai final yang melengkapi gelar treble – sungguh partai yang sulit dilupakan. (bola/row)

 
Leave a comment

Posted by on February 1, 2011 in tulisan

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: