RSS

Jangan Buat Argentina Menangis, Diego

08 Oct

MaradonaJakarta – Saat Diego Maradona menangis tersedu-sedu ketika Tim Tango kalah di final Piala Dunia 1990, semua orang Argentina seperti ingin menghiburnya. Jika Lionel Messi dkk tak lolos ke Afrika Selatan, bagaimana nasibnya? Sembilanbelas tahun lalu di Italia, saat Argentina kalah oleh gol penalti Andreas Brehme di final Piala Dunia dari Jerman Barat, salah satu angle foto Maradona yang paling sering diekspos adalah dia dalam linangan airmata. Ekspresi itu berbeda 180 derajat dari ketika ia mengangkat trofi Piala Dunia empat tahun sebelumnya di Meksiko, saat karirnya mencapai puncak, yang kelak menjadikannya pahlawan besar Argentina. Segala kehebatannya di lapangan, bahkan kontroversinya di luar stadion, yang membuat orang berkata ‘itulah Maradona’, senantiasa dicintai masyarakatnya. Pendek kata, bukan cerita baru kalau si boncel berusia 48 tahun ini sudah seperti “dewa” di sebagian kalangan orang Argentina. Tapi kini sang legenda terancam jatuh. Jika kehebatannya itu tak keluar lagi di masa-masa sulit saat ini, boleh jadi Maradona bisa merilis sebuah Legend of the Fall, mengutip sebuah film yang dibintang Brad Pitt. Ketika ia dipilih melatih tim nasional, pro-kontra reaksi yang muncul. Yang mendukung seperti beranggapan bahwa ‘Maradona terlahir untuk sepakbola yang sukses’. Yang pesimistis mendasari ketidakyakinannya itu pada minimnya pengalaman Maradona sebagai pelatih, dan dia tak cukup wibawa di depan para pemainnya karena sejarah hitam kehidupannya pada obat-obatan terlarang. Tapi tugas itu sudah berjalan selama hampir satu tahun. Ia memulainya dengan manis, memenangi tiga pertandingan pertamanya. Sampai di situ, semuanya berjalan baik-baik saja. Ujian pertama datang pada 2 April 2009. Bermain di ibukota tertinggi di dunia, La Paz, dalam lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2010, Argentina terhempas sangat keras dengan kekalahan mencolok 1-6 dari tuan rumah Bolivia. Kalah adalah hal biasa, tapi kalah semencolok itu sangat tidak biasa untuk tim sekaliber Argentina. Maradona dan mayoritas pemain kala itu berdalih bahwa mereka “tak bisa bernafas” bermain di tempat setinggi 3.660 meter di atas permukaan laut itu. Kemudian, hampir dua bulan kemudian, Argentina kembali menelan kekalahan. Bermain lagi di dataran tinggi Quito (2.800 meter di atas permukaan laut), Carlos Tevez gagal penalti dan pasukan Maradona ditekuk Ekuador 0-2. Dua kekalahan itu membuat Argentina mulai tak nyaman di tempatnya di Pra Piala Dunia. Dan ketidaknyamanan itu berubah levelnya menjadi “Siaga I” setelah mereka menelan kekalahan ketiga akhir pekan lalu. Melawan musuh besarnya di Amerika Selatan, Brasil, juara dunia dua kali itu menyerah 1-3. Hangus sudah gembar-gembor yang didengungkan Maradona sebelum kickoff, bahwa timnya akan menang karena memiliki materi pemain yang lebih baik ketimbang skuad Samba. Tapi dunia sudah melihat, bahwa kata-kata Maradona dibungkam anak-anak Carlos Dunga di lapangan di Rosario Central Stadium. Konsekuensinya, tiga dari empat tiket lolos otomatis ke Afrika Selatan tidak dekat dengan Argentina. Brasil sudah mendapatkannya, Paraguay dan Chile pun berpeluang lebih besar ketimbang Argentina. Menang adalah sebuah kewajiban buat Maradona dalam laga berikutnya melawan Paraguay hari Rabu malam atau Kamis (10/9/2009) pagi WIB. Kalau kalah, Paraguay dipastikan berangkat ke Afsel, dan Argentina harus mengais-ngais kesempatan yang kian menipis. Hal terburuk adalah Argentina hanya finish di urutan kelima dan harus menjalani playoff melawan tim peringkat empat zona CONCACAF. Lebih buruk dari hal terburuk adalah Argentina tak lolos kualifikasi dan absen di Piala Dunia 2010 — dan itu adalah bencana besar. Maradona bukan orang Argentina pertama yang memenangi Piala Dunia sebagai kapten tim, melainkan Daniel Pasarella di tahun 1978. Tapi popularitas dari sejarah sepakbolanya jauh melebihi figur-figur lain di Argentina di ranah olahraga tersebut. Saat ini ia terancam membuat sejarah lain, yaitu pelatih pertama dalam 30 tahun yang gagal meloloskan Argentina ke Piala Dunia. Jika bayang-bayang bencana itu terjadi, semua orang Argentina, yang begitu bangga pada sejarah dan reputasi hebat mereka di dunia sepakbola, tentu akan meratap dan menangis, menyesali hidup yang bisa mendadak ‘tak berguna’ jika tidak tampil di Piala Dunia. Tapi tentu saja, ini belum benar-benar berakhir. Paling tidak Maradona masih punya tiga pertandingan untuk dilakoni, dimenangi, sehingga bencana itu tidak terjadi. “Akan berat,” ujar sang maestro merujuk pada agenda pertemuan timnya melawan Paraguay, setelah dipermalukan Brasil. “Dan akan lebih lebih berat karena (kekalahan dari Brasil) hari ini. Hal-hal ini terjadi dalam sepakbola, tapi ini takkan membuat patah arang.”

sumber: http://m.detik.com

 
Leave a comment

Posted by on October 8, 2009 in Uncategorized

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: